CERPEN: Cinta Pertama

Sabtu, 17 November 2012

| | |

Cinta Pertama

Suasana yang ramai, menghiasi sekolah yang elit dan favorit itu. Ada yang berteriak, melompat-lompat, bahkan samapi ada yang jungkir balik dilapangan basket, setelah mendengar berita yang membuat semua warga sekolah tersenyum bahagia.
Semua anak kelas XII disekolah itu, LULUS 100%, dan yang lebih membanggakan lagi, aku mendapat nilai terbesar disekolah itu. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia kujalani dari kelas X sampai sekarang.
“Selamat ya”, seorang cowokmengulurkan tangan kepadaku. Mimpi apa aku semalam. Rasanya ini sebuah dongen khayalan. Tapi, ini kenyataan. Kubalas juga dengan mengulurkan tangan dan mengucapkan “Terimakasih”. Jantungku berdetak seperti gendering yang dipukul keras.
“Nasta, selamat ya. Kamu memang hebat“, puji Adit, yang juga memberi selamat padaku. “Thanks Adit“, jawabku. Adit meninggalkanku dengan Marcel. Tamapaknya Marcel ingin berbicara padaku, mungkin dia gugup. Kupancing dia dengan pertanyaan, “Marcel kamu kenapa? Kamu mau menanyakan sesuatu?“ tanyaku. “oh tidak... oh ya, Nasta, kamu... kamu....“ katanya terbata-bata. “Kenapa, ada yang salah denganku?“, tanyaku meyakinkan. “Nasta kamu mau dinner denganku nanti malam?“ tanyanya. “Oh, tuhan... ini benar-benar seperti mimpi. Dia mengajakku dinner“ batinku. Aku menjawab dengan menganggukan kepala. Rasa bahagia menyelimuti hati ini. Dia langsung meninggalkanku. Aku juga ingin mencari sahabat baikku ,Nindy. Aku ingin menyampaikan ini padanya. Kucari dia. Sudah dua kali ku kelilingi sekolah yang besar itu, tapi tidak ketemu juga. Dikelas juga tidak ada, hanya saja seorang diri. Kutany dia keberadaan Nindy. Katanya Nindy sudah pulang. Sayang sekali, tapi bisa kuberitahu dia besok.
Akhirnya aku pulang. Setelah sampai didepan pagar sekolah, mobil marcel berhenti didepanku. “Nasta, ayo naik. Aku antar pulang. Lagipula, rumah kita kan searah.“, tawarnya. “Terimakasih Marcel, aku pulang sendiri saja“ tolakku. “Ayo naik.. kalau nggak mau nanti aku marah lo..“ ajak dia lagi. “Baiklah...“. akhirnya aku naik kemobilnya.
Didalam mobilnya, dia tak banyak bicara. Aku mulai berfikir, sebaiknya aku Tanya sekarang. “Marcel aku mau nanya, pacar kamu yang mana sih?“, tanyaku. “Oh, itu. Ternyata kamu perhatian juga. Sebenarnya pacar aku Cuma atu yaitu Kety. Tapi, karang udah putus. Semua cewek yang deket sama aku hanya teman. Mungkin mereka merasa aku adalah pacarnya.“ Jawabnya sambil membanting stir ke kanan. “oh, gitu“ kataku singkat. “Nasta nanti aku jemput jam 7 ya“. Kata Marcel. Aku hanya menganggukan kepala.
Akhirnya sampai juga didepan rumahku. Aku turun dan mengucapkan terimakasih. Marcel jugameninggalkanku dengan membunyikan bel sebagai jawaban terimakasihku.
Rumah sepi. Mungkin ibu dan ayah keluar. Aku tak menghiraukan, karena begitu bahagianya diriku hari ini. Jam dindingku menunjukkan pukul 1 siang. Aku tak sabar menunggu jam 7. kuputuskan untuk tidur. Tidurku pulas sekali.
Samar, kudengar pintu dan ada yang memnaggilku. Sepertinya itu Ibu. “Masuk bu, pintunya nggak dikunci“, perintahku. “Nasta bangun, sudah jam 5. kamu tidak mandi?“, tanya Ibu. “sebentar Bu. Oh ya Bu, ntar aku ada janji sama teman jam 7“. Kataku memberi tahu Ibu. “Kemana?“ tumben anak Ibu pergi malam minggu“ tanya Ibu meyakinkan. “dinner Bu. Sama Marcel anak ketua yayasan disekolahku.“ Jelasku. “Cieee.. anak Ibu lagi jatuh cinta“ goda Ibu. “Ah Ibu...“
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Aku mulai bersiap-siap. Aku mulai dengan merias wajah dulu. Untung saja aku pernah dikasi tahu cara berias sama Ibu. Aku sedikit gugup, karena ini pertama kalinyaaku dandan sendiri dan pergi malam minggu untuk dinner bersama cowok. Kuusapkan pelembab dan menyapukan bedak tipis diwajahku. Lalu, kusapukan juga warna cokelat muda dan coklat tua dipermukaan kelopak mata dan lipatannya. Tak lupa kuberikan merah pipi di pipiku. Dan terakhir lip conditioner dan lipstik tipis berwarna merah muda kecoklatan. Marias wajah sudah selesai. Sekarang tinggal memakai pakaian. Tinggal 30 menit. Kupakai dress berwarna coklat yang panjangnya pas mengenai lututku. Selanjutnya kuambilstandard pump di rak sepatuku. Tak lupa clutch Bag yang berwarna cokelat. Oh ya, rambutku. Aku bingung harus kuapakan. Akhirnya kuminta Ibuku menjalin rambutku ¼. Itu sebagai bando. Dan sisanya kubiarkan terurai. Untung saja rambutku panjang lurus. Poniku kubawa samping kiri. Aku siap…
Marcelpun datang dan menjumputku ke dalam rumah. Setelah Ibu membukakan pintu, Marcel terdiam bisu menatapku dari atas sampai bawah. “ada apa? Ada yang salah dengan penampilanku?”. Tanyaku keheranan. “Tidak, kamu cantik sekali hari ini”, pujinya. Aku hanya bisa tersenyum. Karena sudah waktu, kami pamit sama Ibu dan langsung ketempat tujuan. Tak sampai 20 menit, akhirnya kita sampai disebuah restoran di Jakarta. Kami duduk di meja no 1 dengan 2 kursi dan meja berbentuk lingkaran dengan lilin yang menambah suasana romantis.
Marcel mempersilakanku duduk. “Nasta, kamu benar-benar cantik hari ini. Penampilanmu serba coklat“, pujinya. “Really?“ tanyaku meyakinkan. “Yes“ jawabnya singkat. “Makasi.., iya aku memang suka warna cokelat”, jawabku sambil memesan makanan. Kami memesan sepiring spaghetti dan lemon tea.
10 menit kemudian, datanglah pesanan kami. “Nasta, aku ingin bilang sesuatau sama kamu”, kata Marcel. “Aku juga“ kataku sambil meminum lemon tea. “kalau gitu aku yang duluan ya.... Marcel sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku selama 3 tahun.“ Jelasku. “Benarkah“ aku juga sadar bahwa aku juga mencintaimu. Nasta, will you be my girlfriend?“ tanyanya sambil memegang tanganku. Tak ragu lagi kuanggukan kepala dan menyunggingkan senyum kepadanya, tanda aku menerimanya.(kurnia) 

0 komentar:

Posting Komentar